Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Blogs ini merupakan situs pribadi yang diperuntukkan bagi semua orang yang ingin belajar tentang apa yang saya (Awill) ingin tampilkan, khususnya yang ada di Indonesia. Media ini diharapkan menjadi salah satu dari syiar dakwah dan media informasi. Semoga bermanfaat, Wassalam.

Sunday, June 05, 2005

Apa itu Takdir ?

kepercayaan

Taqdir Allah adalah ketentuan yang telah Allah tetapkan. Bahkan jauh sebelum semua makhluq diciptakan, Allah telah menuliskan semua taqdir makhluqnya dari permulaan masa hingga hari akhir.

Namun harus kita pahami bahwa taqdir itu tidak ada yang tahu kecuali hanya Allah. Jadi kita tidak bisa mengatakan –misalnya- bahwa saya ini tidak bisa jadi kaya karena taqdir Allah. Sebab dari mana kita tahu bahwa di masa yang akan datang itu kita tetap miskin? Jadi bagi manusia dan semua makhluq yagn namanya taqdir Allah itu adalah hal ghaib dan misteri. Karena itu haram hukumnya seseorang berpangku tangan tidak berusaha dengan alasan sudah taqdir. Padahal Allah sendiri sebagai Penulis Taqdir telah memerintahkan kita untuk berusaha dan bekerja serta berikhtiar. Karena itu menyalahkan taqdir adalah dosa karena melawan perintah Allah.

Jauh hari sebelum kita, orang-orangdahulu pun pernah berselisih paham tentang takdir ini menjadi dua kubu yang ekstrem. Yang pertama yang menyerahkan semua pada taqdir, tidak mau bekerja dan berusaha. Yang kedua yang tidak percaya pada taqdir dan berpendirian bahwa manusia 100% menentukan apa yang akan terjadi. Bagi Ahlussunnah wal jamaah, posisi yang benar adalah diantara keduanya, yaitu tidak menafikan taqdir tetapi tetap berusaha.

Orang yang bunuh diri tidak keluar dari taqdir Allah, karena kita baru tahu apakah suatu kejadian itu merupakan taqdir dari Allah atau bukan setelah kejadian itu berlangsung. Jadi bagaimana kita tahu bahwa orang bunuh diri itu takdirnya bukan seperti itu ? Apakah kita bisa tahu taqdir dari Allah sebelumnya sehingga bisa mengatakan bahwa taqdirnya tidak mati bunuh diri, tapi mati di tempat lain.

Sehingga `jatah` manusia bukanlah untuk mempertanyakana apakah suatu kejadian itu sudah sesuai dengan taqdir Allah atau tidak. Tetapi jatah kita hanyalah berusaha untuk mendapatkan kebaikan, kesehatan, keselamanat, keamanan dan semua yang baik-baik. Usaha itu sendiri merupakan perintah Allah.

Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah SAW bersbda,”Tidak ada seorang pun dari kamu melainkan telah dicatat / ditentukan tempat kembalinya, ke surga atau ke neraka”. Para shahabat bertanya,”Kalau begitu sebaiknya kita meninggalkan ibadah dan amal lalu bertawakal saja ?”. Rasulullah SAW bersabda,”Beramallah, karena semua orang dimudahkan oleh Allah sesuai dengan penciptaannya”. (HR. Bukhari, Muslim)

Konsep taqdir.

Taqdir itu memiliki empat tingkatan yang semuanya wajib diimani.

a. Al-`Ilmu, bahwa seseorang harus meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun teperinci. Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Karena segala sesuatu diketahui oleh Allah, baik yang detail maupun jelas atas setiap gerak-gerik makhluknya.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya , dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata "(QS. Al-an`am 59)

b. Al-Kitabah

Bahwa Allah mencatat semua itu dalam lauhil mahfuz, sebagaimana firman-Nya :

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab . Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.(QS. Al-Hajj : 70)

c. Al-Masyiah (kehendak)

Kehendak Allah ini bersifat umum. Bahwa tidak ada sesuatu pun di langit maupun di bumi melainkan terjadi dengan iradat / masyiah (kehendak / keinginan) Allah SWT. Maka tidak ada dalam kekuasaannya yang tidak diinginkannya selamanya. Baik yang berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh Zat Allah atau yang dilakukan oleh makhluq-Nya.

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS. Yasin : 82)

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada diantara mereka yang beriman dan ada di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.(QS. Al-Baqarah : 253)

d. Al-Khalqu

Bahwa tidak sesuatu pun di langit dan di bumi melainkan Allah sebagai penciptanya, pemiliknya, pengaturnya dan menguasainya.

Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya.(QS. Az-Zumar : 2)

Wallahu a‘lam bis-shawab.

10 Comments:

At Saturday, May 01, 2010 1:51:00 AM, Blogger Aditya said...

Terimakasih atas pencerahannya ..

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>
At Monday, January 10, 2011 3:38:00 PM, Anonymous Anonymous said...

terima kasih tarbiyahnya

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>
At Saturday, May 05, 2012 10:01:00 PM, Anonymous Anonymous said...

Kalau menurut anda taqdir itu sudah ada terperinci, dan setiap taqdir tiap-tiap manusia sudah tertulis, berarti, seseorang menjadi penjahat karena kehendak Allah SWT ? Dengan begitu juga, sang penjahat tidak salah dong? Karena dia mengikuti kehendak Allah SWT? Coba di revisi lagi pilihan katanya. Karena bisa menimbulkan banyak pemahaman.

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>
At Friday, May 18, 2012 2:29:00 AM, Anonymous Anonymous said...

Coba perhatikan dengan rinci dan hati tenang.
Takdir adalah sebuah KATA KEADAAN dengan SYARAT UTAMA JIKA SUDAH TERJADI.

Nah, karena SUDAH TERJADI ... sebetulnya kata itu adalah KATA BIASA .

Contoh ...setelah makan ...saya kenyang ...kalau mau kalimat tsb lebih dahsyat dirubah jadi " SETELAH MAKAN ...SAYA DITAKDIRKAN KENYANG.

Atau ...saat ini saya ikut nimbrung dan berkomentar di rubrik ini ...kalau mau dahsyat ...diganti " SAYA DITAKDIRKAN MENULIS di rubrik ini .

jadi ...hati2 menempatkan kata takdir .....

yg paling konyol ...hari ini mengatakan : aku ditakdirkan menikah denganmu ...TAPI SUATU SAAT mengatakan AKU DITAKDIRKAN BERCERAI DENGANMU, hehehehee TAKDIR KOK BIAS BERUBAH-UBAH

Wassalam

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>
At Thursday, August 02, 2012 7:09:00 AM, Blogger sergae zarkhev said...

Assalamu'alaikum, admin blogger. Terimakasih sebelumnya, saya tertarik membaca artikel tentang takdir ini.

Terkadang sering terlintas di pikiran saya tentang "Takdir" ini, seperti apakah seseorang yang bunuh diri dan melakukan kejahatan sebelumnya telah tertulis takdirnya.

Atau mengapa banyak seorang yang berdosa katakanlah pembunuh, penzina mereka di akhir hayat bertaubat kepada Allah, apakah mereka memang ditakdirkan Allah utk bertaubat?

Lantas mengapa Allah yang Maha Mulia dan Maha Pengasih menciptakan manusia yg terkadang justru menjadi kafir & mengingkari nikmatNya? , padahal Allah tidak sama sekali membutuhkan manusia dan bisa saja Allah melenyapkannya

Maha Suci Allah yang mengetahui segala yg zahir dan batin. Saya berserah diri kepadaNya.

Saya yg kurang tahu akan sangat senang jika admin berkenan memperjelas lagi dr pertanyaan saya tentang takdir ini. saya takut akan tersesat, Jazakumullah

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>
At Monday, August 13, 2012 10:48:00 PM, Anonymous Anonymous said...

Maaf mas yang posting tanggal 18 mei, istilah untuk menyebutkan sesuatu yang telah terjadi itu adalah NASIB, bukan taqdir. Lagi pula, memang taqdir itu kan ada yang bisa dirubah, adapula yang tidak bisa dirubah. Yang bisa dirubah contohnya kepintaran, dan yang tidak bisa dirubah contohnya kematian. Dan setau saya, pelajaran mengenai taqdir ini sudah diperkenalkan sejak SD loh mas, memangnya mas lupa ya?

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>
At Tuesday, May 13, 2014 10:23:00 AM, Blogger joheun chingu said...

Takdir bisa diubah dan tidak bisa diubah? itu seperti orang linglung menurut saya.
Takdir dari kata Qadar yang bisa dipahami oleh kita dengan kata "kadar" atau "hitung".
Sedangkan Nasib dapat dipahami dari artikata sesungguhnya juga yaitu "cocok/tepat".
Mungkin takdir adalah proses menghitungnya dan nasib adalah hasil dari hitungan tersebut.
Namun apapun pengertian takdir itu hanya ada di Hadits dan ajaran agama, namun tidak ada di AlQuran.
Jika sangat haus akan kebenaran yang tersedia di kitab suci maka silahkan hubungi saya

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>
At Tuesday, May 13, 2014 10:43:00 AM, Blogger joheun chingu said...

Jika dilihat dari arti kata sesungguhnya maka takdir sebenarnya baik untuk menjelaskan bahwa ALLAH memiliki "kesanggupan menghitung dengan tepat".

Jika ALLAH mau maka ALLAH bisa memprediksi dengan keakuratan yang sangat tinggi tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Kemampuan ALLAH dalam memprediksi atau meramalkan masa depan tidak disertai dengan paksaan namun murni ALLAH menghitung semua kemungkinan setiap gerak gerik manusia maupun element lainnya yang mempengaruhi hitungan tersebut.

Dan ALLAH sangat jarang menggunakan kemampuannya itu namun jika ALLAH menggunakan kemampuannya tersebut maka ALLAH membagikan hasil dari hitungannya kepada kita semua melalui kitab suci yang kita sebut "Nubuat" dan bisa dibaca oleh semua orang dalam bahasa masing-masing saat ini.

Namun kata takdir sudah dicemari dan tidak bisa lagi digunakan untuk menjelaskan hal itu karena kata takdir lebih dikenal luas sebagai kata yang menuduh ALLAH memaksakan kehendak.

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>
At Tuesday, May 13, 2014 11:14:00 AM, Blogger joheun chingu said...

Fatir [35] : 11
وَاللَّهُ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا ۚ وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٍ وَلَا يُنقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Wallahu khalaqakum min turabinthumma min nutfatin thumma jaAAalakum azwajan wamatahmilu min ontha wala tadaAAu illabiAAilmihi wama yuAAammaru min muAAammarin walayunqasu min AAumurihi illa fee kitabin inna thalikaAAala Allahi yaseer
And Allah created you from dust, then from a sperm-drop; then He made you mates. And no female conceives nor does she give birth except with His knowledge. And no aged person is granted [additional] life nor is his lifespan lessened but that it is in a register. Indeed, that for Allah is easy.
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan. Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan dalam Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>
At Tuesday, May 13, 2014 11:15:00 AM, Blogger joheun chingu said...

perhatikan baik-baik ayat diatas terdiri dari 3 bagian yang bisa membantu kita memahami tentang banyak hal di dunia ini yang tidak selaras dengan sifat-sifat ALLAH terjadi. seperti kejahatan, ketidakadilan, korupsi dsb.

pertama ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa ALLAH menciptakan manusia pertama sepasang dan disertai dengan kemampuan reproduksi dengan syarat indung telur harus dibuahi oleh sperma.

Namun keputusan untuk melakukan hubungan intim itu tidak dipaksakan dan bergantung dari kehendak manusia masing-masing karena manusia diciptakan tidak seperti robot namun ALLAH memberikan kebebasan berkehendak dan kemampuan berpikir (daya nalar).

Jika terkena penyakit impoten atau mandul maka itu karena penyakit yang mungkin diturunkan oleh orang tua sebelumnya atau terjadi karena kesalahan manusia itu sendiri atau karena orang lain. Maka bukan karena kehendak ALLAH jika ada sepasang suami istri yang tidak bisa memiliki anak.

Begitu juga jika ada anak dibawah umur atau belum menikah sudah hamil itu karena kesalahan pasangan atau bisa jadi karena pemerkosaan, maka itu pun juga bukan kehendak ALLAH.

Namun di bagian kedua kita bisa membaca bahwa ALLAH memperhatikan, dan mengetahui setiap wanita yang mengandung dan melahirkan. tentu kata "mengetahui" tidak berkaitan dengan kehendak atau paksaan bukan?

dan dibagian ketiga kita membaca ALLAH tidak memanjangkan juga tidak memendekan umur manusia dapat kita pahami bahwa ALLAH belum bertindak atau ikut campur dengan keputusan salah yang dilakukan oleh manusia masing-masing (Al-Hijr [15]:36-38)

itulah mengapa ada bayi gugur, di arbosi atau baru lahir beberapa hari dibunuh ibunya atau dibuang, lahir diluar perkawinan dsb. Itu semua karena kesalahan manusia sendiri baik kesalahan diri kita maupun oranglain baik secara sadar tidak sadar atau sengaja tidak disengaja (An-Nisa [4]:40,79; Ash-Shuraa [42]:30)

Dan yang terpenting adalah baca baik-baik di ayat itu ada kata kunci yaitu "mengetahui", "dalam kitab" yang artinya ALLAH meski belum bertindak menghakimi namun ALLAH mengetahui histori setiap manusia sejak di kandung, lahir sampai mati tidak akan hilang dari ingatan ALLAH itulah mengapa digunakan kata "kitab" bukan kata "ingatan" karena kata kitab dijaman sekarang bisa berarti "buku catatan".

kenapa ALLAH memilih kata "buku catatan" dibanding kata "ingatan"? karena kata ingatan lebih dipahami manusia "bisa lupa" nah untuk menandaskan ALLAH tidak akan lupa maka manusia bisa memahami agar tidak lupa maka perlu dicatat.

Sekarang kita tahu bukan? ALLAH tidak pernah memaksakan kehendaknya namun benar-benar memberikan kebebasan sepenuhnya.

Tentu ALLAH pun memberikan jalan keluar agar kita semua tertib hidup bersama selamanya maka hanya Hukum ALLAH saja yang kita taati seperti halnya anda menaati Hukum Lalu Lintas di Jalan.

itulah yang ALLAH berikan kepada Adam pertama kali yaitu kehendak bebas namun disertai petunjuk mana buah yang baik jika dimakan dan mana buah yang tidak baik dimakan (bukan dilarang)

Itulah mengapa di AlQuran tidak ada takdir.

<$BlogCokepercayaanmmentDeleteIcon$>

Post a Comment

<< Home